BAB 3 KARAKTERISTIK DAN NILAI-NILAI KEWIRAUSAHAAN

2.1 Definisi Kewirausahan
Kewirausahaan pertama kali muncul pada abad 18 diawali dengan penemuan-
penemuan baru seperti mesin uap, mesin pemintal, dll. Tujuan utama mereka
adalah pertumbuhan dan perluasan organisasi melalui inovasi dan kreativitas.
Keuntungan dan kekayaan bukan tujuan utama.
Istilah kewirausahaan merupakan padanan kata dari entrepreneurship dalam
bahasa Inggris. Kata entrepreneurship sendiri berawal dari bahasa Perancis, yaitu
‘entreprende’ yang berarti petualang, pencipta dan pengelola usaha. Istilah
tersebut diperkenalkan pertama kali oleh Richard Cantillon (1755). Istilah ini
makin popular setelah digunakan oleh pakar ekonomi J.B Say (1803) untuk
menggambarkan para pengusaha yang mampu memindahkan sumber daya-
sumber daya ekonomis dari tingkat produktivitas rendah ke produktivitas yang
lebih ingi dan menghasilkan banyak lagi (Suwartoyo,1992).
Ketika teori ekonomi memasuki masa neoklasikal, peran wirausaha tidak lagi
mendapat perhatian khusus. Wirausaha saat itu hanya dianggap sebgai factor
produksi yang tergolong tetap (fixed factor), di mana pemusatan teori saat itu
berada pada pengelolaan sumber daya (Eatwell et. al., 1988).
Bebarapa definisi lain tentang kewirausahaan diantaranya sebagai berikut:
Maggil (1991)
Wirausaha melakukan suatu proses yang disebut dengan ‘creative destruction’
terhadap keseimbangan pasar. Inovasi yang diciptakan oleh wirausaha akan
menghancurkan keseimbangan yang terdapat pada pasar untuk kemudian
menciptakan keseimbangan baru dengan keuntungan-keuntungan atas inovasi
tersebut.
Raymond W.Y Kao (1995)
Kewirausahaan merupakan suatu proses, yakni proses penciptaan sesuatu yang
baru (kreasi baru) dan membuat sesuatu yang berbeda dari yang sudah ada
(inovasi ). Tujuannya adalah tercapainya kesejahteraan individu dan nilai tambah
bagi masyarakat. Sedangkan wirausaha mengacu pada orang yang melaksanakan
proses penciptaan

kesejahteraan /kekayaan dan nilai tambah, melalui penelusuran dan penetasan
gagasan tersebut menjadi realitas.
Faisal Afif (2001)
Wirausaha pada hakikatnya bukan saja semata-mata masuk dalam wilayah
bisnis/ekonomi, namun telah meluas ke bidang public (nonbisnis) seperti politik
dan pemerintah. Alasannya, karena secara kontekstual dunia entrepreneur berisi
wilayah tak bertuan yang belum pernah dijamah, asing dan pola dinamikanya
belum memiliki keteraturan.
Joseph Schumpeter (1934)
Wirausahawan adalah seorang inovator yang mengimplementasikan perubahan-
perubahan di dalam pasar melalui kombinasi-kombinasi baru. Kombinasi baru
tersebut bisa dalam bentuk :
(1) memperkenalkan produk baru atau dengan kualitas baru,
(2) memperkenalkan metoda produksi baru,
(3) membuka pasar yang baru (new market),
(4) Memperoleh sumber pasokan baru dari bahan atau komponen baru, atau
(5) menjalankan organisasi baru pada suatu industri.
Schumpeter mengkaitkan wirausaha dengan konsep inovasi yang diterapkan
dalam konteks bisnis serta mengkaitkannya dengan kombinasi sumber daya.
Harvey Leibenstein (1968,1979)
Kewirausahaan mencakup kegiatan-kegiatann yang dibutuhkan untuk
menciptakan atau melaksanakan perusahaan pada saat semua pasar belum
terbentuk atau belum teridentifikasi dengan jelas, atau komponen fungsi
produksinya belum diketahui sepenuhnya.
Salah satu kesimpulan yang bisa ditarik dari berbagai pengertian tersebut adalah
bahwa kewirausahaan dipandang sebagai fungsi yang mencakup eksploitasi
peluang-peluang yang muncul di pasar. Eksploitasi tersebut sebagian besar

berhubungan dengan pengarahan dan atau kombinasi input yang produktif.
Seorang wirausahawan selalu diharuskan menghadapi resiko atau peluang yang
muncul, serta sering dikaitkan dengan tindakan yang kreatif dan innovatif.
Wirausahawan adalah orang yang merubah nilai sumber daya, tenaga kerja,
bahan dan faktor produksi lainnya menjadi lebih besar daripada sebelumnya dan
juga orang yang melakukan perubahan, inovasi dan cara-cara baru.
Selain itu, seorang wirausahawan menjalankan peranan manajerial dalam
kegiatannya, tetapi manajemen rutin pada operasi yang sedang berjalan tidak
digolongkan sebagai kewirausahaan. Seorang individu mungkin menunjukkan
fungsi kewirausahaan ketika membentuk sebuah organisasi, tetapi selanjutnya
menjalankan fungsi manajerial tanpa menjalankan fungsi kewirausahaannya. Jadi
kewirausahaan bisa bersifat sementara atau kondisional.
Kesimpulan lain dari kewirausahaan adalah proses penciptaan sesuatu yang
berbeda nilainya dengan menggunakan usaha dan waktu yang diperlukan,
memikul resiko finansial, psikologi dan sosial yang menyertainya, serta menerima
balas jasa moneter dan kepuasan pribadi.

2.2 Karakter, Ciri Umum, dan Nilai-Nilai Hakiki Kewirausahaan
2.2.1 Karakteristik Kewirausahaan

Karakteristik Watak
Percaya diri dan optimis Memiliki kepercayaan diri yang kuat, ketidaktergantungan

terhadap orang lain dan individualistis.

Berorientasi pada tugas dan hasil Kebutuhan untuk berprestasi, berorientasi laba, mempnyai
dorongan kuat, energik, tekun dan tabah, tekad kerja keras, serta
inisiatif.

Berani mengambil resiko &
menyukai tantangan

Mampu mengambil resiko yang wajar.

Kepemimpinan Berjiwa kepemimpinan mudah beradaptasi dengan orang lain,

dan terbuka terhadap kritik dan saran.
Keorisinalan Inovatif, kreatif dan fleksibel.

Berorientasi pada masa depan Memiliki visi dan perspektif terhadap masa depan.
Sumber : Geoffrey G.Meredith, et al. Kewirausahaan :Teori dan Praktik Ed.5.hal. 5-6
Para ahli mengemukakan karakteristik kewirausahaan dengan
konsep yang berbeda-beda. Geoffrey G. Meredith (1996 : 5-6), misalnya,
mengemukakan cirri-ciri dan watak kewirausahaan seperti berikut :

Ahli lain, seperti M. Scarborough dan Thomas W. Zimmerer (1993:6-7)
mengemukakan delapan karakteristik kewirausahaan sebagai berikut :
Desire for responsibility, yaitu memiliki rasa tanggung jawab atas usaha-usaha
yang dilakukannya. Seseorang yang memiliki tanggung jawab akan selalu
mawas diri.
Preference for moderate risk, yaitu lebih memilih resiko yang moderat, artinya
selalu menghindari risiko, baik yang terlalu rendah maupun yang terlalu tinggi.
Confidence in their ability to success, yaitu memiliki kepercayaan diri untuk
memperoleh kesuksesan.
Desire for immediate feedback, yaitu selalu menghendaki umpan balik dengan
segera.
High level of energy, yaitu memiliki semangat dan kerja keras untuk
mewujudkan keinginannya demi masa depan yang lebih baik.
Future orientation, yaitu berorientasi serta memiliki perspektif dan wawasan
jauh ke depan.
Skill at organizing, memiliki keterampilan dalam mengorganisasikan sumber
daya untuk menciptakan nilai tambah.
Value of achievement over money, lebih menghargai prestasi daripada uang.

2.2.2 Ciri-Ciri Umum Kewirausahaan
Memiliki Motif Berprestasi Tinggi
Seorang wirausaha selalu berprinsip bahwa apa yang dilakukan
merupakan usaha optimal untuk menghasilkan nilai maksimal. Artinya, wirausaha
melakukan sesuatu hal secara tidak asal-asalan, sekalipun hal tersebut dapat
dilakukan oleh orang lain. Nilai prestasi merupakan hal yang justru
membedakanantara hasil karyanya sebagai wirausaha dengan orang lain yang
tidak memiliki jiwa kewirausahaan.

Memiliki Perspektif ke Depan
Arah pandangan seorang wirausaha juga harus berorientasi ke masa
depan. Perspektif seorang wirausaha akan dapat membuktikan apakah ia berhasil
atau tidak. Indicator-indikatornya dapat dilihat dari contoh berikut :
Sony Sugema, tokoh wirausaha yang sukses melalui lembaga bimbingan
belajar, mampu menangkap berbagai peluang di masa depan dengan
menerapkan motto “The Fastes Solution” yang sebelumnya tidak langsung
dipercaya, ternyata setelah dicoba menjadi popular di mana-mana.
Akio Morita, pendiri dan pemilik Sony Corp. menciptakan “Walkman” dari
hasil perspektifnya terhadap masa depan, yaitu impiannya untuk menciptakan
sebuah tape recorder yang dilengkapi dengan headphones dan berbentuk
kecil sehingga mudah dibawa kemanapun.
Memiliki Kreatifitas Tinggi
seorang wirausaha umumnya memiliki daya kreasi dan inivasi yang lebih
nonwirausaha. Hal-hal yang belum terpikirkan oleh orang lain sudah terpikirkan
olehnya dan wirausaha mampu membuat hasil inovasinya menjadi permintaan,
contohnya : Menjelang tahun 2000, ada sekelompok ornag yang menjad kaya raya
karena hasil menjual “tha millennium bug”. Puluhan juta dolar bergulir di industry
computer dan teknologi hanya karena ide ini. Peranti lunak baru, jasa konsultasi
teknologi computer, bahkan Hollywood pun berhasil membuat ide ini menjadi
industry hiburan yang menghasilkan puluhan juta dolar.
Memiliki Sifat Inovasi Tinggi
Seorang wirausaha harus segera menerjemahkan mimpi-mimpinya menjadi
inovasi untuk mengembangkan bisnisnya. Jiak impian dan tujuan hidup
merupakan fondasi bangunan hidup dan bisnis, maka inovasi dapat diibaratkan
sebagai pilar-pilar yang menunjang kukuhnya hidup dan bisnis. Impian saja tidak
cukup. Impian harus senantiasa ditunjang oleh inovasi yang tiada henti sehingga
bangunan hidup dan bisnis menjadi kukuh dalam situasi apa pun, entah badai
kesulitan ataupun tantangan. Setiap fondasi baru yang dibuat harus ditunjang
oleh pilar-pilar bangunan sebagai kerangka pengembangan, kemudian diikuti
dengan manajemen produk, manajemen konsumen, manajemen arus kas, system
pengendalian, dan sebagainya. Inovasi adalah kreatifitas yang diterjemahkan
menjadi sesutau yang di implementasikan dan memberikan nilai tambah atas
sumber daya yang kita miliki.

Memiliki Komitmen terhadap Pekerjaan
Menurut Sony Sugema, terdahap tiga hal yang harus dimiliki oleh
seorang wirausaha yang sukses, yaitu mimpi, kerja keras, dan ilmu.
Ilmu disertai kerja keras namun tanpa impian bagaikan perahu yang berlayar
tanpa tujuan. Impian disertai ilmu namun tanpa kerja keras seperti seorang
pertapa. Impian disertai kerja keras, tanpa ilmu, ibarat berlayar tanpa nakhoda,
tidak jelas arah yang akan dituju. Sering kali orang berhenti diantara sukses dan
kegagalan. Namun, seorang wirausaha harus menancapkan komitmen yang kuat
dalam pekerjaannya, karena jika tidak akan berakibat fatal terhadap segala
sesuatu yang telah dirintisnya.
Memiliki Tanggung Jawab
Ide dan perilaku seorang wirausaha tidak terlepas dati tuntutan tanggung jawan.
Oleh karena itulah komitmen sangat diperlukan dalam pekerjaan sehingga
mampu melahirkan taggung jawab. Indicator orang yang bertanggung jawab
adalah berdisiplin, penuh komitmen, bersungguh-sungguh, jujur, berdedikasi
tinggi, dan konsisten, misalnya :
Staff bagian keuangan malas membuat laporan rutin secara tepat waktu
sehingga menyulitkan pengukuran kinerja perusahaan.
Pengusaha merekayasa laporan keuangan untuk menghindari pembayaran
pajak sesuai dengan peraturan.

Memiliki Kemandirian
Orang yang mandiri adalah orang tidak suka mengandalkan orang lain namun
justru mengoptimalkan segala daya dan upaya yang dimilikinya sendiri. Intinya
adalah kepandaian dalam memanfaatkan potensi diri tanpa harus diatur oleh
orang lain.
Untuk menjadi seorang wirausaha mandiri, haus memiliki berbagai jenis modal.
Ada tiga jenis modal utama yang menjadi syarat, yaitu :

Sumber daya internal calon wirausaha, misalnya kepandaian, keterampilan,
kemampuan menganalisa dan meghitung resiko serta keberanian atau visi
jauh ke depan.
Sumber daya eksternal, misalnya uang yang cukup untuk membiayai modal
usaha dan modal kerja, jaringan sosial serta jalur permintaan, penawaran, dan
lain sebagainya.
Faktor X, misalnya kesempatan dan keberuntungan.
Seorang calon wirausaha harus menghitung dengan seksama apakah ketiga
sumber daya ini dimiliki sebagai modal atau tidak. Jika factor-faktor tersebut
dapat dimiliki, maka ia akan merasa optimis dan boleh berharap bahwa impiannya
dapat menjadi kenyataan.

Memiliki Keberanian Menghadapi Risiko
Seorang wirausaha harus berani menghadapi risiko. Semakin besar risiko yang
dihadapinya, semakin besar pula kesempatan untuk meraih keuntungan. Berani
mengambil risiko yang telah diperhitungkan sebelumnya merupakan kunci awal
dalam dunia usaha, karena hasil yang akan dicapai akan proporsional terhadap
risiko yang akan diambil. Risiko yang diperhitungkan dengan baik akan lebih
banyak memberikan kemungkinan berhasil. Inilah factor penentu yang
membedakan wirausaha dengan manajer. Wirausaha akan lebih dibutuhkan pada
tahap awal pengembangan perusahaan, sedangkan manajer dibutuhkan dalam
mengatur perusahaan. Inti dari tugas manajer adalah berani mengambil dan
membuat keputusan untuk meraih sukses dalam mengelola sumber daya,
sedangkan inti kewirausahaan adalah berani mengambil risiko untuk meraih
peluang.
Selalu Mencari Peluang
Seorang wirausaha sejati mampu melihat sesuatu dalam persperktif atau dimensi
yang berlainan pada satu waktu. Bahkan ia juga harus mampu melakukan
beberapa hal sekaligus dalam satu waktu. Kemampuan inilah yang membuatnya
piawai dalam menangani berbagai persoalan yang dihadapi perusahaan. Semakin
tinggi kemampuan seorang wirausaha dalam mengerjakan berbagai tugas
sekaligus, semakin besar pula kemungkinan untuk mengolah peluang menjadi
sumber daya produktif. Seorang wirausaha senantiasa belajar, belajar dan belajar.

Bila kita berfikir kreatif, sesungguhnya masih banyak rahasia yang harus
dipecahkan oleh umat manusia dalam kehidupan ini melalui pengalaman dan
pencarian yang tiada henti akan kebenaran. Makna lain dari pernyataan ini adalah
bahwa setiap perubahan yang terjadi dalam kehidupan adalah bagian dan proses
alami untuk membantu kita dalam belajar, berubah, dan bertumbuh ke arah yang
lebih baik.
2.2.3 Nilai-nilai Hakiki Kewirausahaan
Nilai-nilai kewirausahaan di atas identic dengan system nilai yang melekat pada
system nilai manajer. Seperti dikemukakan oleh Andreas A. Danandjaja (1986),
dan Sidharta Poespadibrata (1993), dalam system nilai manajer terdapat dua
kelompok nilai, yaitu: 1) sitem nilai pribadi 2) system nilai kelompok atau
organisais. Dalam system nilai pribadi terdapat empat jenis system nilai, yaitu (1)
nilai primer pragmatic, (2) niali primer moralistic, (3) Nilai primer efektif dan (4)
nilai baruan. Dalam system nilai primer Pragmatik terkandung beberapa unsur
diantaranya perencanaan, prestasi, produktivitas, kemampuan kecakapan,
kreativitas, kerja sama, dan kesempatan. Sedangkan dalam nilai moralistic
terkandung unsur-unsur keyakinan, jamianan, martabat, pribadi, kehormatan,
dan ketaatan.
Dalam kewirausahaan, system nilai primer pragmatic tersebut dapat dilihat dari
watak, jiwa, dan prilaku, misalnya selalu bekerja keras, tegas, mengutamakan
prestasi, keberanian mengambil resiko, produktivitas, kreativitas, inovatif, kualitas
kerja, komitmen dan kemampuan mencari peluang, selanjutnya nilai moralistic
meliputi keyakinan atau percaya diri, kehormatan, kepercayaan, kerja sama,
kejujuran, keteladanan dan keutamaan.
Sujuti Jahya (1997), membagi nilai-nilai kewirausahaan tersebut dalam dua
dimensi nilai berpasangan, yaitu:
Pasangan system nilai kewirausahaan yang berorientasi materi dan
nonmateri.
Nilai-nilai yang berorientasi pada kemajuan dan nilai-nilai kebiasan.
Penerapan masing-masing nilai sangat bergantung pada focus dan tujuan masing-
masing wirausaha.

Dari beberapa ciri di atas, terdapat beberapa nilai hakiki yang penting dari
kewirausahaan, yaitu:
Percaya Diri
Kepercayaan diri merupakan suatu paduan sikap dan keyakinan seseorang dalam
menghadapi tugas atau pekerjaan (Soesarsono Wijandi 1988 :33). Dalam praktik,
sikap dan kepercayaan ini merupakan sikaap dan keyakinan untuk memulai,
melakukan, dan menyelesaikan tugas atau pekerjaan yang dihadapi. Oleh sebab
itu, kepercayaan diri memilikki nilai keyakinan, optimisme, individualisme, dan
ketidaktergantungan. Seseorang yang memiliki kepercayaan diri cenderung
memiliki keyakinan akan kemampuannya untuk mencapai keberhasilan
(Zimmerer, 1996:7)
Kepercayaan diri ini bersifat internal, sangat relative, dinamis dan banyak
ditentukan oleh kemampuan untuk memulai, melaksanakan, dan menyelesaikan
suatu pekerjaan. Orang yang percaya diri mrmiliki kemampuan untuk
menyelesaikan pekerjaan dengan sistematis, berencana, efektif, dan efesien.
Kepercayaan diri juga sellu ditunjukkan oleh ketenangan, ketekunan, kegairahan,
dan kemantapan dalam melakukan pekerjaan.
Berorientasi pada Tugas dan Hasil
Seseorang yang selalu mengutamakan tugas dan hasil adalah orang yang selalu
mengutamakan nilai-nilai motif berprestasi, berorientasi pada laba, ketekunan
dan ketabahan, tekad kerja keras, mempunyai dorongan kuat, energik, dan
berinisiatif. Berinisiatif artinya selalu ingin mencari dan memulai sesuatu. Untuk
memulai diperlukan adanya niat dan tekad yang kuat serta karsa yang besar.
Sekali sukses atau berprestasi. Maka sukses berikutnya akan menyusul, sehingga
usahanya akan semakin maju dan berkembang. Dalam kewirausahaan, peluang
hanya diperoleh apabila terdapat inisiatif. Perilaku inisiatif ini biasanya diperoleh
melalui pelatihan dan pengalaman selama bertahun-tahun dan
pengembangannya diperoleh dengan cara disiplin diri, berpikir kritis, dan
semangat berprestasi.

Keberanian Mengambil Risiko

Kemauan dan kemampuan untuk mengambil risiko merupakan salah satu nilai
utama dalam kewirausahaan. Wirausaha yang tidak mau mengambil risiko akan
sukar memulai atau berinisiatif. Menurut Angelita S. Bajaro, seorang wirausaha
yang berani menanggung risiko adalah orang yang selalu ingin menjadi pemenang
dan memenangkan dengan cara yang baik ( Yuyun Wirasasmita 1994: 2).
Wirausaha adalah orang yang lebih menyukai usaha-usaha yang lebih menantang
untuk mencapai kesuksesan atau kegagalan daripada usaha yang kurang
menantang. Oleh sebab itu wirausaha kurang menyukai risiko yang terlalu rendah
atau terlalu tinggi. Risiko yang terlalu rendah akan memperoleh sukses yang
relatif rendah. Sebaliknya, risiko yang tinggikemungkinan memperoleh sukses
yang tinggi, tetpi dengan kegagalan yang sangat tinggi. Oleh sebab itu, ia akan
lebih menyukai risiko yang seimbang (moderat). Dengan demikian keberanian
untuk menanggung risiko yang menjadi nilai kewirausahaan adalah pengambilan
risiko yang penuh dengan perhitungan dan realistis. Kepuasan yang besar
diperoleh apabila berhasil dalam melaksanakan tugas-tugasnya secara realistis.

Kepemimpinan
Seorang wirausaha yang berhasil selalu memiliki sifat kepemimpinan,
kepeloporan, dan keteladanan. Ia selalu ingin tampil berbeda, menjadi yang
pertama, dan lebih menonjol. Dengan menggunakan kemampuan kreativitas dan
inovasi, ia selalu menampilkan barang dan jasa-jasa yang di hasilkannya dengan
lebih cepat, lebih dulu, dan segera berada dipasar. Ia selalu menampilkan produk
dan jasa-jasa baru dan berbeda sehingga menjadi pelopor dalam proses produksi
mauoun pemasaran. Ia selalu memanfaatkan perbedaan sebagai sutau yag
menambah nilai. Karena itu, perbedaan bagi seseorang yang memiliki jiwa
kewirausahaan merupakan sumber pembaruan untuk menciptakan nilai. Ia selalu
ingin bergaul untuk mencari peuang dan terbuka terhadap kritik serta saran yang
kemudian dijadikan peluang. Dalam karya dan karsa yang berbeda akan
dipandang sebagai suatu yang baru dan dijadikan peluang. Banyak hasil karya
wirausaha yang berbeda dan dipandang baru, seperti computer, mobil, minuman,
dan produk makanan lainnya.

Berorientasi ke Masa Depan

Orang yang berorientasi ke masa depan adalah orang yang memiliki perspektif
dan pandangan ke masa depan. Karena memiliki pandangan yang jauh ke masa
depan, maka ia selalu berusaha untuk berkarsa dan berkarya. Kuncinya adalah
kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang yang baru dan berbeda dengan
yang sudah ada saat ini. Meskipun terdapat risiko yang mungkin terjadi, ia tetap
tabah untuk mencari peluang dan tantangan demi pembaruan masa depan.
Pandangan yang jauh ke depan membuat wirausaha tidak cept puas dengan karsa
dan karya yang sudah ada saat ini. Oleh sebab itu, ia selalu mempersiapkannya
dengan mencari suatu peluang.
Keorisinilan : kreativitas dan Inovasi
Nilai inovtif, kreatif, dan fleksibilitas merupakan unsur-unsur keorisinilan
seseorang. Wirausaha yang inovatif adalah orang yang kreatif dan yakin dengan
adanya cara-cara baru yang lebih baik (Yuyun Wirasasmita, 1994: 7) dengan ciri-
ciri:
Tidak pernah puas dengan cara-cara yang dilakukan saat ini, meskipun cara
tersebut cukup baik.
Selalu menuangkan imajinasi dlam pekerjaannya.
Selalu ingin tampil beda atau manfaatkan perbedaan.

Hardvard’s Theodore Levitt mengemukakan definisi inovasi dan kretivitas lebih
mengarah pada konsep berpikir dan bertindak yang baru. Kreativitas adalah
kemampuan menciptakan gagasan dan menemukan cara baru dalam melihat
permasalahan dan peluang yang ada. Sedangkan inovasi adalah kemampuan
mengaplikasikan solusi yang kreatif terhadap permasalahan dan peluang yang ada
untuk lebih memakmurkan kehidupan masyarakat. Jadi kretivitas adalah
kemampuan menciptakan gagasan baru, sedangkan inovasi adalah melakukan
sesuatu yang baru. Oleh karena itu, menurut Levitt, kewirausahaan adalah
berpikir dan bertindak sesuatu yang baru atau pendapat Soeparman
Soemahamidjaja (1997:10), bahwa kewirausahaan adalah kemampuan
menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda.
Share:

No comments:

Post a Comment

Keep Traveling

Total Pageviews

Popular

Blog Archive

Recent Posts